Tidak Cukup Dibentuk, MPA Juga Harus Dilatih

Dibaca: 1282 kali  Jumat,20 Juni 2014 | 11:58:00 WIB

Tidak Cukup Dibentuk, MPA Juga Harus Dilatih
Ket Foto : Fire Control Health Safety and Environment (FCHSE) PT SRL, Tegor Tampubolon memberikan pelatihan tentang cara menggulung selang untuk pemadaman karhu

RANGSANG - Sosialisasi dan pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan terus diupayakan oleh pihak manajemen PT Sumatera Riang Lestari (SRL) Blok V Rangsang. Salah satunya dengan membentuk dan melatih Masyarakat Peduli Api (MPA). Kegiatan sosialisasi dan pelatihan MPA dirasa cukup penting mengingat potensi kebakaran hutan dan lahan cukup tinggi di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti apalagi di musim kemarau.
 
“Tidak cukup hanya dibentuk dan diberikan peralatan pemadaman. MPA yang terdiri dari masyarakat sekitar juga perlu diberikan pelatihan, baik dengan teori maupun praktek pemadaman,” kata Tegor Tampubolon, Penanggung jawab kebakaran hutan dan lahan PT SRL Blok V Rangsang saat melakukan pembentukan, pengukuhan serta pelatihan MPA di Desa Tanjung Samak, Rabu (18/6).
 
Tegor mengatakan, sebagian besar kasus karhutla yang terjadi karena adanya kegiatan pembukaan lahan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab guna menekan biaya dalam melakukan pembersihan lahan. Ia juga mengingatkan, masyarakat  juga harus mulai sadar tentang pentingnya menjaga hutan dan bahaya kebakaran hutan.
 
“Yang perlu dipahami adalah dengan membakar hutan tidak akan memberikan dampak positif apapun bagi masyarakat maupun lingkungan sekitar. Selain rusaknya ekosistem, karhutla juga akan menggangu perekonomian, kesehatan dan juga dapat merusak hubungan bilateral dengan negara lain,” kata Tegor.
 
Tegor mencatat, selama periode 2014 menurut pantauan satelit di wilayah Kecamatan Rangsang hampir semua desa terjadi kebakaran hutan dan lahan. Bahkan apabila dikalkulasi, tidak kurang sebanyak 5000 hektar hutan dan lahan terbakar.
 
Camat Rangsang, Joko Surianto melalui Sekcam Nurman SH mengatakan, potensi kebakaran di wilayah Kecamatan Rangsang sangat tinggi karena semua struktur wilayahnya berupa lahan gambut. Pihaknya mengatakan,  dari total 14 desa, sebanyak 13 desa mengalami kebakaran hutan dan lahan di  Rangsang.
 
Dalam kesempatan yang sama, Kapolsek Rangsang Iptu Syamsueri mengatakan secara rutin telah melakukan sosialisasi dan juga patroli terkait kebakaran hutan dan lahan. Ia mengimbau, masyarakat diharapkan dapat bekerjasama dengan beberapa pihak terkait dalam membantu pemerintah dalam menanggulangi karhutla.
 
“Kami mohon masyarakat juga dapat ikut berpartisipasi apabila ditemukan kasus karhutla agar segera melaporkan kepada pihak terkait,” katanya.
 
Pihaknya menambahkan, polisi juga tidak akan segan untuk menindak sesuai dengan hukum yang berlaku  untuk para pelaku pembakar hutan.
 
Manajemen PT SRL Blok V Rangsang yang diwakili oleh Bayu S.N saat kegiatan pelatihan MPA mengatakan, pada dasarnya MPA merupakan kegiatan sukarela yang dibentuk dengan melibatkan masyarakat untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan.
 
“Animo masyarakat cukup bagus terkait kegiatan MPA, dapat kita lihat bersama tadi sebanyak 91 peserta yang berasal dari Desa Sei Gayung Kiri, Tanjung Medang, Gemalasari, Penyagun, Teluk Samak, Repan dan Tebun mengikuti dengan seksama kegiatan ini hingga selesai,” kata Bayu.
 
Masih kata Bayu, kegiatan MPA yang ditaja oleh PT SRL Blok V Rangsang merupakan kerjasama yang dilakukan dengan Upika Kecamatan Rangsang, BLH Kabupaten Kepulauan Meranti, Dishutbun Kabupaten Kepulauan Meranti guna menekan kasus karhutla yang masih terjadi.
 
Selain dibentuk dan dilatih, peserta MPA yang berasal dari tujuh desa di Rangsang juga dibekali dengan atribut berupa baju, topi, sepatu dan mesin bertekanan tinggi untuk menunjang kegiatan MPA dalam melakukan pemadaman. (rep01)
Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com