Antisipasi Ancaman Karhutla

Pemkab Kepulauan Meranti Gencar Bentuk MPA

Dibaca: 1461 kali  Selasa,08 Juli 2014 | 02:43:00 WIB

Pemkab Kepulauan Meranti Gencar Bentuk MPA
Ket Foto : Bupati Kepulauan Meranti, Drs Irwan MSi, mengukuhkan masyarakat peduli api di Kecamatan Tasik Putri Puyu yang di wakili dari 10 desa dengan memasang s

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, saat ini gencar membentuk dan mengukuhkan relawan yang diberi nama Masyarakat Peduli Api (MPA) di 96 desa yang ada di daerah ini. Pembentukan MPA bertujuan agar tidak terulang lagi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) seperti yang terjadi di Kepulauan Meranti beberapa bulan lalu.

Kegiatan pengukuhan pertama dilakukan oleh Bupati Kepulauan Meranti, Drs Irwan MSi, di Desa Tanjung Padang, Kecamatan Tasik Putri Puyu. Siang itu Bupati mengukuhkan relawan MPA dari 10 desa se-Kecamatan Tasik Putri Puyu.

10 Desa yang dikukuhkan pembentukan Masyarakat Peduli Api, antara lain, di Desa Tanjung Padang, Putri Puyu, Mekar Delima, Dedap, Kudap, Bandul, Selat Akar, Tanjung Pisang, Mengkopot, dan Mengkirau.

Dalam sambutannya, Irwan memaparkan bahwa Karhutla yang terjadi sejak Januari hingga Maret 2014 lalu di Kepulauan Meranti, merupakan kebakaran yang paling besar dan terlama sepanjang sejarah kebakaran di kabupaten termuda se-Riau itu.

"Parahnya Karhutla saat itu didukung oleh cuaca yang sangat panas. Cuaca itu pula merupakan cuaca ekstrim yang selama ini tidak pernah terjadi di Kepulauan Meranti," kata Bupati Irwan.

Akibat Karhutla itu pula, setidaknya tambah Irwan, kebakaran terjadi pada lahan sekitar 23.611,7 Hektar. Untuk Kerugian ditaksir mencapai Rp1 triliun dari sektor investasi dan pendapatan petani.

"Dampak karhutla, kebun sudah produksi, hilangnya sumber pendapatan, kebun baru dibangun berdampak pada psikologis mereka akan merasa malas berkebun lagi," tambahnya.

Kemudian, ditambahkan orang nomor satu di Kepulauan Meranti itu lagi, dampak yang paling serius akibat Karhutla adalah akan timbul instabilitas di daerah, timbul tingkat kerawanan yang sangat tinggi.

Maka dari itu, menurut Irwan, untuk mengatasi dampak-dampak Karhutla tersebut Pemkab Kepulauan Meranti telah mengambil langkah-langkah dengan membangun kembali kebun masyarakat, serta membentuk masyarakat peduli api ini.

"Pembentukan MPA ini sebagai upaya mencegah karhutla. Kita berharap mereka yang baru saja dikukuhkan dapat memegang amanah dan siap mengemban tugas. Saya juga mengimbau agar masyarakat saling bahu membahu dan bekerjasama. Saya tak ingin lagi masyarakat kita rugi," kata Irwan.

Ia menjelaskan, dampak negatif kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi sejak Januari hingga Maret 2014 lalu begitu besar bagi Kabupaten Kepulauan Meranti. Selain merugi hingga Rp1 Triliun, kemiskinan di kabupaten termuda itu juga meningkat hingga 5 persen dari jumlah sebelumnya yakni sebesar 35 persen.

Bupati mengaku sangat menyesalkan kebakaran hebat sepanjang sejarah di Kepulauan Meranti tersebut merupakan ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Kemudian diperparah oleh kondisi musim kemarau panjang, lahan gambut dan angin yang bertiup kencang.

"Bencana Karhutla kali ini merupakan yang terhebat sepanjang masa dan sejarah di Kepulauan Meranti," ungkap Irwan.

Ditambahkan Irwan lagi, dari karhutla yang terjadi di Kepulauan Meranti lebih kurang 23 ribu hektar lahan yang terdiri dari perkebunan sagu, karet, kopi, sawit, kelapa, akasia serta semak belukar hangus terbakar.

"Nilai kerugian diperkirakan mencapai 1 Triliun lebih, meliputi kerugian terhadap investasi di sektor perkebunan maupun bagi petani itu sendiri," lanjutnya.

Saat ini, tambah Irwan, berbagai upaya memulihkan kerugian ekonomi masyarakat pasca Karhutla terus dilakukan. Upaya antisipasi dampak yang lebih luas akibat Karhutla juga penting. Instabilitas keamanan sosial dan ekonomi di masyarakat juga perlu diantisipasi. (adv/sas)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com