Nelayan Desa Banglas Sangat Butuh Kapal

Dibaca: 3463 kali  Minggu,19 Mei 2013 | 08:21:00 WIB

Nelayan Desa Banglas Sangat Butuh Kapal
Ket Foto :

SELATPANJANG-Nelayan Desa Banglas Kecamatan Tebingtinggi mengeluhkan merosotnya hasil tangkapan ikan di sungai suir. Untuk dapat memaksimalkan hasil tangkapan, mereka sangat berharap bantuan kapal dari pemerintah daerah, sehingga dapat meluaskan wilayah tangkapan ikan ke laut lepas.

“Terakhir nelayan Banglas dapat bantuan kapal pada tahun 2007 lalu, Kabupaten Bengkalis memberikan bantuan kapal ukuran 4 ton untuk dua kepala keluarga. Setelah itu belum pernah lagi kami merasakan bantuan,” ujar Zulkifli (21), salah seorang nelayan Desa Banglas yang dijumpai saat akan pergi mencari ikan dan udang, di perairan Sungai Suir, belum lama ini.

Menurut pemuda yang tidak menyelesaikan sekolah dasarnya ini, nelayan di beberapa desa lain yang berada di sekitar desa mereka mendapatkan bantuan kapal dari Pemkab Kepulauan Meranti. “Saya pun heran kenapa nelayan banglas tidak ada dapat bantuan, padahal nelayan desa sebelah dibantu,” tambahnya.

Zulkifli mengaku, ia bersama nelayan lainnya memang belum pernah menanyakan perihal bantuan dari Pemkab Kepulauan Meranti kepada Kepala Desa. Namun, mereka sangat berharap ada bantuan kapal sehingga mereka bisa mencari ikan lebih jauh dan tentunya akan meningkatkan hasil tangkapan di laut.

“Kita tidak pandai pak, mau bertanya dengan siapa pun tidak tau,” kata Zul yang juga berprofesi sebagai nelayan sondong ini.

Hasil dari menyondong udang dan ikan-ikan di bibir pantai sungai suir yang didapat Zulkifli, terkadang tidak seimbang dengan modal BBM yang dibelinya untuk mesin kapal. Sekali berlayar, ia membutuhkan solar sekitar 6 liter.

“6 liter solar kita beli seharga Rp40 Ribu, kadang-kadang bisa mencapai Rp 45 Ribu. Ya, kadang-kadang kalau sedang tidak ada udang, tekor (rugi) juga. Tapi itulah hidup, kita cuma berusaha saja,” tuturnya.

Setiap berlayar, Izul mengaku mampu mendapatkan sekitar 3 sampai 4 kilogram udang. Udang yang didapat, dijual oleh ibunya di rumah dengan harga Rp 20 hingga Rp 40 ribu per kilogramnya.

Selain itu, dari pantauan di lapangan, pelabuhan yang dijadikan para nelayan sebagai tempat melabuhkan kapal dan mengangkut hasil tangkapan mereka di Jalan pelabuhan Desa Banglas dalam kondisi sangat memperihatinkan. Bahkan tidak layak lagi dan berbahaya apabila digunakan, karena sudah rusak parah akibat dimakan usia. (rep01/mtr)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com