Irwan : Pembangunan JSR Hadapi Banyak Kendala

Dibaca: 613 kali  Kamis,23 Oktober 2014 | 04:00:00 WIB

Irwan : Pembangunan JSR Hadapi Banyak Kendala
Ket Foto :

SELATPANJANG – Isu-isu negatif mengenai proyek pembangunan Jembatan Selat Rengit (JSR) terutama di media sosial mendapat tanggapan Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan MSi. Bupati langsung meninjau proyek tersebut dengan mengikutsertakan sejumlah pejabat dan kalangan wartawan, Rabu (22/10/2014) pagi.
 
Bupati melihat langsung pilling beton yang kokoh terpancang. Lokasi yang semula dalam lumpur dan hutan bakau itu terlihat sangat baik karena sudah ditimbun tanah merah dan bisa dilalui. Namun jalan masuk ke lokasi proyek masih berupa jalan setapak dan jembatan kayu seadanya. Tidak terlihat satu pun pekerja di lokasi proyek. Namun, sejumlah alat berat masih berada di lokasi tersebut.
 
"Kita perlu jelaskan soal pembangunan Jembatan Selat Rengit ini karena saya mendapat informasi banyak muncul komentar-komentar negatif dan bernuansa politik terhadap proyek rakyat ini," ujar Bupati, sembari berdiri di depan pilling pondasi jembatan yang berdiri kokoh untuk memberikan keterangan pers.
 
Menurutnya, JSR merupakan proyek multiyears yang sangat penting untuk mempercepat penuntasan kemiskinan, terutama di Pulau Merbau. Di Pulau tersebut jumlah penduduk miskinnya terbesar di Kepulauan Meranti.
 
"Tanpa membuka akses jalan dan jembatan, sulit kita mengembangkan ekonomi masyarakat. Jadi, pembangunan jembatan ini sangat penting kita lakukan untuk percepatan penuntasan kemiskinan," tegas Bupati.
 
Selain itu, sambung Bupati, Pulau Merbau berpotensi menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti di masa mendatang. Atas dasar itu, perlu dibuka akses menuju pulau tersebut.
 
Mengenai proyek JSR yang direncanakan dibangun dalam rentang tiga tahun sejak 2012 namun belum selesai, Bupati menegaskan keterlambatan penyelesaian proyek tersebut akibat kendala perizinan dan pembebasan lahan yang memakan waktu hingga sekitar satu tahun. Selain itu juga kendala alam dimana tanah di lokasi proyek sangat labil sehingga alat berat sulit masuk.
 
"Pengurusan perizinan pemanfaatan lahan hutan mangrove memakan waktu. Begitu juga, karena Selat Rengit ini jalur pelayaran internasional kita pun harus mengurus izin ke International Maritime Organization (IMO) ditambah proses pembebasan lahan, sehingga memakan waktu hampir satu tahun," papar dia.
 
Bupati mengakui progres pembangunan JSR oleh kontraktor sangat rendah dan jauh dari harapan. Atas dasar itu dirinya meminta Kepala Dinas Pekerjaan Umum untuk segera menuntaskan persoalan tersebut dengan kontraktor.
 
"Ya, kita putuskan kontraknya. Dalam APBD Perubahan Tahun 2014 ini, ntuk JSR masih kita anggarkan Rp193 Miliar, namun itu kita pastikan tidak akan dibayar ke kontraktor," tegas Bupati. (rep01/sus)
Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com