*BLH Segera Turun Ke Lapangan

Nelayan Meranti Keluhkan Limbah PT SRB

Dibaca: 1684 kali  Jumat,31 Oktober 2014 | 06:31:00 WIB

Nelayan Meranti Keluhkan Limbah PT SRB
Ket Foto : Sungai kecil yang mengarah ke laut Selat Air Hitam ini, diduga menjadi lokasi pembuangan limbah PT Sara Rasa Biomass di Desa Bokor, Kecamatan Rangsang

SELATPANJANG - Sejumlah Nelayan di Kecamatan Rangsang Barat mengeluhan pembuangan limbah cair dari pabrik PT Sara Rasa Biomass yang diduga sebagai penyebab minimnya tangkapan ikan. Menyikapi itu, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kepulauan Meranti akan segera menurunkan tim ke lapangan.

Kepala BLH Kabupaten Kepulauan Meranti, Drs Irmansyah MSi, saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (31/10/2014) mengatakan, sudah mendapatkan informasi tentang keluhan nelayan itu, namun belum mendapatkan laporan data tentang pencemaran limbah cair dari pabrik perusahaan dimaksud.

"Sejauh ini kita belum mendapatkan laporan data lengkapnya. Kita mohon dukungan informasi dari para nelayan, wartawan maupun LSM terkait pembuangan limbah yang dilakukan perusahaan itu. Sesegera mungkin akan kami turunkan tim ke lapangan," ujarnya.

Menurutnya, sampel limbah dari perusahaan yang disebut-sebut telah mencemari air laut di Selat Air Hitam itu perlu diuji terlebih dahulu, sehingga nantinya dapat diketahui kadar limbah apakah dapat terurai atau tidak setelah dibuang ke laut.

"Jika nantinya benar ditemukan adanya limbah berbahaya dan mengancam biota air, seperti salah satunya mengakibatkan punahnya ikan sehingga merugikan nelayan, maka akan ada tindakan tegas yang diberlakukan terhadap perusahaan sebagaimana peraturan yang berlaku," tegasnya.

Sebelumnya, Ardian, Kepala Dusun III Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat mengatakan, sewaktu perusahaan ini belum beroperasi di desa itu, nelayan sekitar bisa mendapatkan hasil tangkapan ikan senilai Rp200 ribu. Tapi sekarang, untuk mencari Rp30 ribu saja sudah sangat sulit.

"Tidak ada lagi nelayan yang turun melaut di sekitar perusahaan. Kalau pun turun mencari ikan, nelayan pergi ke laut yang posisinya jauh dari lokasi penangkapan di sekitar perusahaan, sehingga biaya yang harus dikeluarkan nelayan jadi bertambah," kata Ardian.

Saat ini, lanjutnya, sebagian besar nelayan di Desa Bokor mulai beralih profesi dengan mencari sumber mata pencarian lain. Kebanyakan di antara para nelayan di desa ini memilih menjadi Tenaga Kerja di Malaysia atau menjadi petani. (rep01/sus)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com