Diduga Menipu, Plaza Elektronik Dilaporkan ke Polisi

Dibaca: 1454 kali  Sabtu,18 April 2015 | 03:32:00 WIB

Diduga Menipu, Plaza Elektronik Dilaporkan ke Polisi
Ket Foto : Ilustrasi

KARIMUN – Plaza Elektronik (PE), sebuah pusat belanja barang elektronik terbesar di Tanjungbalai Karimun, Kepulauan Riau (Kepri) dilaporkan seorang konsumen yakni Hendrik Bawole (37) ke Sat Reskrim Polres Karimun, Rabu (8/4/2015) lalu.

Pelaporan dikarenakan PE diduga telah melakukan tindak pidana penipuan dan pelanggaran undang-undang perlindungan konsumen.

Hendrik mengaku laporan polisi yang ia buat dipicu masalah transaksi jual-beli handphone Samsung S5 di PE senilai lebih kurang Rp 12 juta.

Handphone itu ia beli dengan cara kredit dengan cicilan sebesar Rp 770 ribu per bulan selama 12 bulan. Ketika cicilannya tinggal lima bulan, Hendrik kemudian melunasinya langsung.

Usai dinyatakan lunas, ia pun bermaksud meminta kotak dari handphone tersebut. Namun ia dibuat kecewa karena kotak yang diberikan ternyata tidak sesuai dengan jenis handphone yang ia beli.

Adu argumen pun akhirnya tak terelakan. Bukan menyelesaikan masalah, ia malah dituding telah terima kotak yang sebenarnya saat pertama kali transaksi dilakukan.

"Jelas saya tak terima, sudah kotaknya beda, malah saya dituduh pula telah mengambil kotak yang sebenarnya. Sudah lumayan yang minta saya untuk tidak melaporkan kasusnya ke polisi, dengan alasan abang saya mau mencalonkan jadi Bupati Karimun (Rocky Marciano Bawole, red). Tapi saya benar-benar merasa tersinggung dengan kelakuan mereka (Plaza Elektronik, red), tetap saya laporkan kasusnya ke Polres Karimun," ujar Hendrik dengan nada kesal, dirilis Tribun Batam.

Di tempat terpisah, Manager Plaza Elektronik yakni Asan saat diwawancarai mengaku tidak menyangka Hendrik benar-benar merealisasikan ancamannya dengan melapor ke polisi.

Versi Asan, kejadian itu bermula saat pihaknya akan melakukan upaya penarikan kembali handphone Samsung S5 yang dibeli Hendrik tersebut dikarenakan terjadi tunggakan selama dua bulan, Januari dan Februari 2015. Asan menduga, Hendrik tersinggung mulai saat itu.

"Menurut perjanjian, tujuh hari saja telat, maka barang akan ditarik kembali, ini dua bulan telat. Mungkin gara-gara itu (hendak ditarik, red) ia tak terima dan tersinggung," kata Asan. (tb/rep02)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com