Ini Tanggapan Anggota DPRD Meranti Soal Warga Meranti Pilih Kerja ke Luar Negeri

Dibaca: 1406 kali  Kamis,28 Mei 2015 | 10:08:00 WIB

Ini Tanggapan Anggota DPRD Meranti Soal Warga Meranti Pilih Kerja ke Luar Negeri
Ket Foto : anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Darwin Susandy

SELATPANJANG - Kerja di luar negari seperti ke Malaysia dan Singapura bukan hal baru bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti, bahkan hal itu sudah dilakoni sejak puluhan tahun silam. Namun masalahnya dominasi TKI itu tidak didukung skil atau SDM yang memadai.

"Persoalan rendahnya SDM dan minimnya peluang kerja di daerah sendiri memaksa anak-anak Kepulauan Meranti mencari pekerjaan ke negeri orang bahkan sampai ke luar negeri dengan berbagai profesi. Lebih lagi tawaran pendapatan yang tinggi," kata Anggota DPRD Kepulauan Meranti, Darwin Susandy, Kamis (28/5).

Dikatakannya, sebagian besar TKI asal Kepulauan Meranti hanya menjadi buruh bangunan di Malaysia atau ada istilah kerja karung goni di Singapura dan Batam.

"Selain lapangan kerja di daerah masih minim, untuk menempuh pendidikan bangku kuliah yang memadani juga mesti keluar kota dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Ini sebenarnya menjadi problem besar bagi kabupaten kita," ucap Darwin lagi.

Pernyataan Darwin itu muncul terkait kasus 16 warga Selatpanjang yang sempat disandera di Kamboja oleh majikan tempat mereka berkerja. Menurutnya, pekerjaan itu memiliki resiko tinggi, terlebih lagi dilakoni tanpa dokumen resmi, namun hanya bermodalkan paspor.

"Kita harus segera mengatasi permasalahan lapangan pekerjaan ini dengan menciptakan lapangan pekerjaan di daerah kita sendiri. Saya sangat mengharapkan pemerintah daerah dan DPRD bersama mencarikan solusi. Ketertinggalan pembangunan infrastruktur harus segera digesa," ucap politisi PAN ini.

Pembangunan infranstruktur yang belum bisa dimanfaatkan, lanjut Darwin harus dituntaskan dengan segera. Salah satu diantaranya adalah jalan menuju pelabuhan roro di Kampung Balak. Karena roro adalah akses penting bagi Kepulauan Meranti ke wilayah daratan sumatera.

"Ini perlu cepat disiapkan supaya masyarakat ada jalan alternatif yang lain untuk menuju daratan dan bisa tekan high cost selama ini," harapnya.

Dicontoh Darwin, banyak anak-anak Kepulauan Meranti yang kuliah ke Pekanbaru, mereka pergi pulang dengan ongkos biaya boat sudah habis 300 ribu, belum biaya taxi atau tempat penginapan yang harus dibayar setiap bulannya.

"Ini bisa menekan cost pendidikan mahasiswa kita, disamping itu dibukanya akses jalan tersebut akan menurunkan harga-harga sembako yang selama ini kita bergantung pada pasokan lewat Pekanbaru dan sekitarnya. Supaya tatanan hidup masyarakat kita yang lebih baik," pungkasnya. (adv)
 

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com