Masyarakat adalah Pihak Paling Dirugikan atas Dampak Karlahut

Dibaca: 1612 kali  Jumat,04 Desember 2015 | 04:50:00 WIB

Masyarakat adalah Pihak Paling Dirugikan atas Dampak Karlahut
Ket Foto : Kabid Pengawasan BLH Kepulauan Meranti, Yonari SH, membuka acara

SELATPANJANG - Banyak dampak yang ditimbulkan dari musnahnya hutan, dimana masyarakat luas adalah pihak yang pada akhirnya paling dirugikan. Salah satu penyebab musnahnya hutan adalah kebakaran, untuk itu peran masyarakat perlu dilibatkan dalam pencegahan.

Seperti diungkapkan Eddi Wardana S SIp, dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), saat menjadi narasumber pada acara "Penyegaran Peran Masyarakat Peduli Api dalam Pencegahan Karlahut" di Selatpanjang, Kamis (3/11/2015).

Acara yang digelar oleh Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera KLHK bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kepulauan Meranti itu diikuti oleh unsur Masyarakat Peduli Api, Tokoh Masyarakat dan lainnya.

Eddi Wardana menjelaskan, dampak yang timbul dari kerusakan hutan, diantaranya Rusaknya fungsi tata air, dimana mengakibatkan banjir di musim hujan dan kekeringan atau krisis air di waktu kemarau serta intrusi air laut.

"Kemudian Hilangnya tempat tinggal satwa liar yang mengancam masyarakat (konflik manusia vs satwa), Hilangnya aneka ragam potensi hasil hutan (kayu, non kayu, tanaman obat & satwa bernilai tinggi) sebagai sumber matapencaharian masyarakat sekitar hutan, termasuk Pelepasan emisi gas karbon ke udara mengakibatkan pemanasan bumi dan perubahan iklim," jelasnya.

 



Hal senada juga diungkapkan Mukhamadun SHut MSi, narasumber Widyaiswara BDK Pekanbaru, dimana 99 persen kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh proses pembangunan dan aktivitas manusia yang tidak terkendali, hanya 1 persen yang disebabkan oleh faktor alam.

"Untuk menanggulanginya memerlukan peran semua pihak, namun peran masyarakat adalah yang terpenting, karena masyarakat adalah pihak yang punya peran besar dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, terutama dalam pencegahan di lapangan," ucapnya.

Menurut data yang kutip dari situs sedkab.go.id tanggal 23 oktober 2015 lalu, lanjut Mukhamadun, bencana asap tahun 2015 telah menyebabkan total kerugian sebesar Rp400 Triliun.

"Jumlah penduduk terpapar 43 juta jiwa, Korban ISPA 270 ribu jiwa, Biaya operasional pemadaman Rp1 triliun. Belum lagi dampak ekonomi lainnya, sehingga dikalkulasikan total kerugian mencapai Rp400 triliun," ungkapnya.

 



Kegiatan Penyegaran Peran Masyarakat Peduli Api dalam Pencegahan Karlahut itu dibuka oleh Kepala BLH Kepulauan Meranti yang diwakili Kabid Pengawasan, Yonari SH dan ditutup pada sore hari oleh Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera KLHK yang diwakili Kepala Sub Bidang Hutan dan Hasil Hutan Bidang Perencanaan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Erni Wulandari SHut ME. (adv)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com