Harga Gas di Indonesia Mahal, Siapa Biang Keladinya?

Dibaca: 678 kali  Senin,05 September 2016 | 03:01:00 WIB

Harga Gas di Indonesia Mahal, Siapa Biang Keladinya?
Ket Foto : ilustrasi

JAKARTA - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Syamsir Abduh mengatakan, rantai distribusi gas yang kompleks menjadi penyebab harga gas di Indonesia lebih mahal. Bahkan harga gas di Tanah Air lebih mahal ketimbang negara yang bukan penghasil gas alam, seperti Singapura.

"Karena terlalu banyak pemain, jadi rantai distribusinya panjang sekali," ujar Syamsir, dalam diskusi, di Kebon Sirih, Jakarta, Minggu, 4 September 2016 dilansir tempo.

Syamsir mencontohkan harga gas awalnya dari produsen berada di kisaran US$ 4-5 per MMbtu. Harga itu harus melewati 4-5 lapis rantai produksi, mulai dari transporter hingga distributor. Ini membuat harga gas industri mencapai dua kali lipat dari harga awalnya, yaitu antara US$ 9-10 MMbtu.

Menurut Syamsir, rantai distribusi yang kompleks ini disebabkan regulasi perdagangan gas yang terlalu liberal atau bebas. Untuk itu, Syamsir meminta pemerintah harus bertindak mengendalikan pasar industri gas, yang merupakan sektor inti di energi.

Dengan adanya kontrol yang baik dari pemerintah, maka harga gas dan kompetisi para pemain di belantika industri gas dilakukan secara sehat. "Memang harus ada leadership yang powerfull. Harus tetap dikendalikan dengan pemerintah sebagai market operator," ujar Syamsir menambahkan.

Sebelumnya Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi melakukan kajian terkait peluang penurunan harga gas di tingkat hulu.

Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) M.I. Zikrullah mengatakan hingga kini pihaknya masih meninjau kembali aspek-aspek apa saja yang bisa dieliminasi guna menurunkan harga jual gas hulu.

"Secara umum, biaya produksi gas diambil dari biaya eksplorasi, biaya pengembangan dan rencana pengembangan," katanya Selasa 30 Agustus 2016 lalu.

Di sisi lain, proyek yang saat ini berjalan belum mendapat pengguna akibat tingginya harga jual gas. Proyek itu rata-rata disetujui rencana pengembangannya (plan of development/PoD) pada empat tahun lalu. (rep01)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com