Bupati Irwan Minta Pemerintah Pusat Juga Fokus Pada Sagu

Dibaca: 889 kali  Rabu,09 November 2016 | 04:27:00 WIB

Bupati Irwan Minta Pemerintah Pusat Juga Fokus Pada Sagu
Ket Foto : Bupati Kepulauan Meranti, Drs H Irwan MSi, saat mengikuti Semiloka Sagu Nasional di Bogor, Rabu

BOGOR - Bupati Kepulauan Meranti, Drs H Irwan MSi, terus berupaya mengangkat potensi Sagu Kepulauan Meranti ke tingkat Nasional. Dia meminta pemerintah pusat juga fokus pada komoditi Sagu, selain Padi, Jagung dan Kedelai (PAJALE).

Harapan itu disampaikan Irwan saat menjadi pembicara pada Semiloka Sagu Nasional bersama para Profesor, Peneliti dan Praktisi Sagu se-Indonesia, di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkembunan (Puslitbangbun), Cimanggu, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/11/2016).

Seminar itu sendiri dilatarbelakangi oleh pentingnya pemanfaatan tanaman Sagu bagi sektor pangan, industri serta energi oleh berbagai pihak. Terlebih lagi diversitas genetik Sagu yang terlengkap berada di Indonesia, sehingga potensi besar tanaman Sagu dapat dioptimalkan pemanfaatannya dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan dan energi.

Sejak dikenalnya tanaman Sagu baik lokal maupun tingkat Nasional, banyak pihak mulai tertarik untuk mengembangkannya. Khusus di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau telah sejak lama memanfaatkan tanaman ini sebagai salah satu bahan pangan pokok dan sumber pendapatan masyarakat. Tanaman Sagu telah pula dikelola secara intensif baik oleh masyarakat maupun swasta.

Inginnya pemerintah, pemanfaatan dan pengembangan Sagu bukan hanya ada di Kepulauan Meranti tetapi dapat dilakukan secara Nasional. Melalui Seminar Lokakarya Sagu ini diharapkan dapat disusun sebuah kebijakan secara kelembagaan dan jaringan kerjasama sehingga dapat mempercepat pengembangan Sagu sebagai bahan pangan dan bio energi berwawasan lingkungan.

Pada kesempatan itu, Bupati Irwan fokus mengusulkan kepada Pemerintah Pusat khususnya Kementerian Pertanian untuk memasukkan Sagu ke dalam program pengembangan pangan Nasional dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan.

Sejauh ini Kementerian Pertanian seperti dikatakan Irwan, hanya fokus pada 3 (tiga) pangan pokok yakni Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) dan Sagu belum termasuk didalamnya.

"Kita hanya meminta ada Goodwill dari Pemerintah sendiri untuk mendorong pengembangan Sagu, jika hal itu tidak ada maka mustahil Sagu dapat dikembangkan. Saat ini Pemerintah intens mengembangkan Pajale tapi Sagu tidak masuk. Kami ingin mengusulkan dalam kegiatan ini mari bersama-sama kita merekomendasikan kepada Kementerian Pertanian bukan hanya Pajale tapi Padi, Jagung, Kedai, Sagu (Pajalegu)," ujar Irwan.

Jika Sagu yang merupakan salah satu peluang alternatif masa depan pangan Nasional belum masuk, Bupati Kepulauan Meranti ini menilai Sagu masih dianaktirikan oleh Pemerintah.

"Potensi Sagu jelas masih dianaktirikan, padahal ini peluang masa depan pangan Nasional. Kami yakin Sagu mampu menjadi cadangan pangan kedepan menuju kedaulatan pangan," terang Irwan.

Selain itu, Bupati juga menilai ada kontradiksi kebijakan ditingkat pusat, terkait upaya penanggulangan kebakaran dilahan gambut. Dimana Sagu sebagai tanaman Surga yang mampu menjaga kadar air dilahan Gambut belum dimasukan kedalam program Pajale.

"Kita melihat kebijakan pusat dalam upaya mengatasi kebakaran dilahan Gambut masih kontradiksi, dimana Sagu dinilai mampu mengendalikan kadar air disitu pula Sagu tidak dimasukan dalam Pajale," jelas Irwan lagi.

Dihadapan para perwakilan pemerintah pusat dari Kementerian terkait, Bupati Irwan yang didampingi Plt Sekdakab Yulian Norwis SE MM dan Kadis Kehutanan Ir Mamun Murod MM serta Kabag Humas Helfandi SE MSi, juga menyarankan agar arah kebijakan dari Pemerintah Pusat juga fokus pada pengadaan Industri Hilir Sagu.

Hal itu, lanjutnya, menimbang semakin rendahnya harga Sagu dipasaran, padahal Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai salah satu daerah penghasil Sagu terbesar di indonesia tengah gencar-gencarnya mendorong pegembangan Sagu dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat.

"Kita juga berharap arah kebijakan juga difokuskan pasa Industri Hilir Sagu, jika tidak maka akan berimplikasi pada semakin rendahnya harga Sagu padahal kita terus mendorong pengambangannya," ungkap Irwan.

Terakhir Bupati juga berharap, sanksi kepada PT National Sago Prima (NSP) yang terindikasi tak mampu menjaga lahan konsesinya dari kebakaran dihapuskan. Hal itu menimbang tidak banyaknya perusahaan yang mau berinvestasi di Sagu.

"Kita tidak ingin ada kekhawatiran dari para investor, karena perusahaan yang mau berinvestasi Sagu tidak banyak," paparnya.

Pemaparan Bupati Irwan disambut positif oleh pembicara dan para peserta Lokakarya Sagu. Salah satunya Dr Haris Gunawan selaku Deputi IV BRG RI Bidang Penelitan dan Pengambangan yang menilai usulan itu sangat baik untuk ditindaklanjuti dalam upaya pengembangan potensi Sagu Nasional.

Pembicara lainnya yakni Prof Dr Bintoro MAgr, menjelaskan untuk kemajuan Indonesia. Pemerintah sudah mati-matian mencapai swasembada beras namun hingga 2014 belum terlalu berhasil.

Jika terus dibiarkan, ungkapnya, negara bisa kolaps karena tidak berhasil mewujudkan kedaulatan pangan. Saat ini Indonesia terkenal sebagai negara pengimpor mulai dari pengimpor terbesar gula, minyak bumi, dan lainnya. Tapi jika potensi Sagu mampu dikelola dengan baik maka semua itu mampu ditutupi.

"Sagu bisa menjadi solusi pembuatan gula sagu. Satu kilo ampas sagu bisa menghasilkan setengah liter gula cair. Ini bisa dilakukan dalam rangka swasembada gula dimana kita memiliki lebih dari 1,5 juta hektar perkebunan Sagu yang tersebar dari Papua, Papua Barat dan Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau," jelasnya.

Dikatakan Prof Dr Bintoro, Glukosa yang dihasilkan Sagu sangat aman dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi. "Glukosa dari Sagu baik untuk kesehatan. Harusnya banyak investor melirik kesini karena sangat menjanjikan selain itu ekonomi rakyat bisa terangkat dan daerah tertinggal bisa menjadi tidak tertinggal, jika Potensi Sagu digali dengan baik," ujarnya.

Sementara itu Ir Ibrahim MM dari Kementerian LHK RI sudah membuat regulasi dalam mendukung pengembangan tanaman Sagu dalam upaya mendorong pengembangan Sagu sebagai pangan alternatif Nasional dan tanaman yang ramah lingkungan.

Sekedar informasi, acara Lokakarya Sagu Nasional itu dibuka langsung oleh Kepala Bidang Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian RI Dr Ir Muhammad Syakir MS. Menurutnya pengembangan Sagu sebagai pangan pokok sangat penting dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan Nasional.

"Kita tidak ingin negara ini hanya menggantungkan ketahanan pangan semata-mata pada beras. Beras tanaman penghasil karbohidrat paling boros menggunakan sumberdaya, butuh air cukup dan sensitif, untuk itu Kementerian Pertanian sudah memikirkan alternatifnya yakni tanaman Sagu," ujar M Syakir.

Peserta seminar terdiri dari pihak-pihak yang berupaya untuk mempercepat pemanfaatan Sagu sebagai bahan pangan dan bio energi berwawasan lingkungan, diantaranya dari Pemerintah Pusat, Pemerintan Daerah, Pengusaha Industri, BUMN, Akademisi, peneliti serta masyarakat.

Para pembicara yang tampil adalah Anggota DPR RI Ir HE Herman Khaeron, Sekjen KLHK Ir Bambang Hendroyono MM, Ir Rida Mulyana dari Kementerian ESDM, Dr Ir Arifin Rudiyanto dari Bappenas, Denaldi M Mauna Dirut Perhutani, Ir Adhi Lukman MBA dari GAPMMI, Dr Agung Murdanoto dari RNI, Dr Supriyanto dari BPPT, Prof Dr Ir MH Bintoro, Prof Dr Tirto Prakoso dan Dr Susanti Tarni dari ITB. (rls/santo)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com