KontraS Minta Kompolnas Dalami Kasus Meranti Berdarah

Dibaca: 981 kali  Jumat,20 Januari 2017 | 03:04:00 WIB

KontraS Minta Kompolnas Dalami Kasus Meranti Berdarah
Ket Foto : Kadiv Sipil dan Politik KontraS, Putri Kanesia bersama Nur Arief berdiskusi dengan Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti (paling kanan).

JAKARTA - Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Kamis 19 Januari 2017, mengunjungi Kantor Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk melaporkan proses penyidikan Kasus Meranti Berdarah sekaligus menyerahkan berkas laporan investigasi KontraS di lapangan.

Kedatangan Kepala Divisi Pembelaan Hak-Hak Sipil dan Politik KontraS, Putri Kanesia dan anggotanya Nur Arif disambut langsung oleh Komisioner Kompolnas Poengky Indarti.

"Dari proses pemantauan terkait kasus Meranti Berdarah, kami menilai pihak penyidik Polda Riau terlihat tidak profesional dan hanya sebagai formalitas saja. Bahkan hingga hari ini tidak ada bentuk transparan pihak kepolisian terhadap keluarga korban," ungkap Nur Arif, dalam rilisnya kepada wartawan, Kamis 19 Januari 2017.

Untuk itu berdasarkan peran Kompolnas sebagaimana diatur oleh undang-undang, sangat penting dilakukan pengawasan dan pemantauan dalam proses pengungkapan kasus Meranti Berdarah yang terjadi 25 Agustus 2016 lalu itu.

"Dari hasil audiensi kita tadi, mereka (Kompolnas) akan segera mengkomunikasikan perkara ini ke Kapolda Riau," sebutnya.

Lebih jauh diterangkannya, dalam kasus kematian Afriadi Pratama, penyidik tidak melakukan pemeriksaan terhadap saksi- saksi yang melihat langsung almarhum ditembak, diseret dan berbagai tindakan penyiksaan lainnya hingga almarhum tewas. Padahal menurut KontraS jika penyidik menggali lebih dalam maka dapat dilihat adanya perencanaan dan unsur kesengajaan.

"Ada perintah langsung dari AKBP Asep Iskandar yang saat itu menjabat Kapolres untuk mengerahkan seluruh jajarannya menangkap Afriadi. Bahkan beberapa polisi mendatangi rumah orang tua korban dengan membawa balok kayu. Ini juga telah terungkap dalam eksepsi para tersangka," jelas Nur Arif.

Sedangkan terkait kasus kematian Isrusli yang tewas tertembak di bagian kepala saat melakukan aksi menuntut keadilan di Mapolres Kepulauan Meranti, KontraS menilai dengan tidak adanya tersangka yang ditetapkan mengindikasikan ketidakprofesionalan penyidik Polda Riau. Bahkan hingga kini pihak keluarga tidak mendapatkan informasi resmi dari polisi tentang penyebab kematian dan perkembangan proses penyidikan.

"Selain Kompolnas, kita juga akan audiensi ke Ombudsman dan Komisi Kejaksaan. Sedang menunggu jawaban," kata Arif.

Komisioner Kompolnas, Poenky Indarti, saat dikonfirmasi wartawan, mengatakan pihaknya akan segera menyurati Irwasda Polda Riau untuk mengetahui proses penyelesaian kasus Meranti Berdarah yang merenggut nyawa dua warga sipil oleh oknum anggota polisi di jajaran Polres Kepulauan Meranti.

"Dalam minggu ini akan kita tanyakan proses penyelesaian kasus sudah sampai di mana," katanya singkat. (rls)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com