Ketua AJI: Pemberitaan Kini Terkotak Pada Isu Sensitif Pemicu Konflik

Dibaca: 427 kali  Minggu,19 Maret 2017 | 05:48:00 WIB

Ketua AJI: Pemberitaan Kini Terkotak Pada Isu Sensitif Pemicu Konflik
Ket Foto : Seminar Nasional bertema Tren Digital 2017, Hoax dan Kebebasan Pers digelar AJI Pekanbaru, Sabtu

PEKANBARU - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru menggelar seminar nasional bertema "Tren Digital 2017, Hoax dan Kebebasan Pers". Seminar ini digelar sebagai acara pengantar sebelum pemilihan Ketua AJI Pekanbaru periode 2017-2020.
 
Seminar ini menghadirkan tiga sosok berkompeten di bidangnya masing-masing. Di antaranya, Pemred suara.com, Suwarjono yang sekaligus Ketua Umum AJI Indonesia. Kedua, Direktur Utama Bank Riau-Kepri (BUMD), Irvandi Gustar dan pendiri sekaligus pemilik dari media digital publik yang mulai tren, selasar.com, Miftah N Sabri, yang menyebut sebagai platform digital yang berfungsi sebagai media saling berbagi informasi dan wawasan tentang apapun.
 
Forum diskusi dibuka oleh Suwarjono yang memaparkan tren pemberitaan yang banyak diakses hari ini. Pemberitaan hari ini, menurut Suwarjono sudah terkotak pada isu-isu yang sangat sensitif dan memicu pada konflik atau pada isu yang tak begitu memiliki nilai berita namun memiliki kekuatan emosional pembaca.
 
"Kasusnya seperti Pilkada Jakarta yang beberapa waktu lalu naik. Padahal bukan hanya Jakarta saja yang mengadakan pilkada atau bukan hanya Ahok saja yang berbeda. Ada lebih dari 100 daerah namun tak sebesar pemberitaan Ahok," kata Suwarjono, Sabtu, 18 Maret 2017.
 
Kesalahan bukan hanya pada pembaca yang disuguhkan banyak berita yang memecah-belah seperti itu lalu beramai-ramai membagikannya di komunitasnya masing-masing, namun juga karena banyak portal media yang memanfaatkan isu tersebut demi keuntungan pribadi mereka seperti rating yang berdampak pada keuntungan bisnis.
 
Kedua, teknologi juga turut mengarahkan pembaca pada kecenderungan untuk membaca konten berita yang sama secara terus menerus tanpa diimbangi oleh konten dengan sudut pandang yang berbeda. Hal ini membuat pola kecendurungan masyarakat kian menjurus pada satu interpretasi saja.
 
"Contohnya di youtube, misalnya kita melihat konten video yang pro ke Ahok, maka alogaritma youtube secara otomatis akan menyimpan jenis konten tersebut dan selanjutnya akan menampilkan jenis yang sama," papar Jono yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Umum AJI Indonesia pada periode lalu.
 
Hal tersebut membuat masyarakat terkotak pada dua golongan, yakni golongan yang pro terhadap suatu isu atau golongan yang kontra. Tentu saja hal tersebut, kata Jono akan memperburuk kondisi sosial masyarakat.
 
"Pada akhirnya, teknologi yang makin maju bukan memberikan keragaman pemberitaan, malah mempersempit dan mengarahkan kita pada satu interpretasi saja," jelasnya. (rls)
 
Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com