Kubah Gambut Pulau Padang Jadi Paru-Paru Dunia

Dibaca: 4257 kali  Sabtu,22 Juni 2013 | 02:48:00 WIB

Kubah Gambut Pulau Padang  Jadi Paru-Paru Dunia
Ket Foto :

SELATPANJANG – Perubahan iklim dan pemanasan global telah mulai dikenali dan dirasakan sejak abad ke-19. Salah satu penyebabnya utama kedua fenomena tersebut adalah emisi berlebihan gas karbon dioksida CO2 sebagai akibat industrialisasi berat.

Pembukaan lahan gambut untuk perkebunan, pertanian kelapa sawit maupun HTI menjadi penyumbang terbesar pengurangan emisi karbon ke udara. Perkebunan kelapa sawit meningkatkan deforestasi sebesar 60 persen dan konsesi untuk bisnis kayu mendorong deforetasi hingga 11 persen. Kenyataan lain membuktikan pemberian konsesi HTI menyumbang 38 persen dari keseluruhan deforetasi dan sekitar 46 persen emisi secara nasional. Untuk mengurani emisi sampai batas 26 persen hingga 41 persen di tahun 2020. Harus dilakukan cakupan memoratorium, tidak hanya di hutan alami dan gambut, tapi juga dilahan konsesi yang ada dan belum dikonversi.

Pulau Padang terletak di barat laut dari Selatpanjang sebagai Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Meranti. Bagian utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Bagian timur berbatasan dengan Selat Asam dan bagian selatan berbatasan dengan Selat Lalang, Kabupaten Siak. Serta bagian barat berbatasan dengan Selat Pakning Bengkalis.

Pulau Padang memiliki panjang 60 km dengan lebar 29 km. Seperti wilayah Meranti lainnya, di sepanjang pesisir pantai Pulau Padang tekstur tanahnya merupakan tanah rawa, liat dan berpasir. Vegetasi alamnya didominasi oleh spesies vegetasi alam pantai berbagai jenis spesies hutan mangrove, pescapre dan api-api.

Berdasarkan hasil uji pengeboran kedalaman 4 meter dari bibir pantai, tepatnya di RT 01 RW 03 Dusun 03 Desa Lukit, di atas kawasan pesisir pantai, hamparan Pulau Padang merupakan lahan rawa gambut dengan ketebalan 6 kilo meter.

Dan berdasarkan hasil uji pengeboran pada jarak 5 kilo meter dari bibir pantai pada lokasi yang sama, kedalaman gambutnya mencapai 5,8 meter.

Fakta ini didukung oleh hasil Penelitian Tim Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada pada tahun 2011, dengan melakukan pendalaman pengeboran tanah pada 70 titik lokasi kordinat.

Dari hasil kajian, lahan gambut di Pulau padang termasuk pada wilayah sebaran gambut dalam dengan kedalaman lebih dari kedalaman 3 meter. Bahkan sebagian besar kawasan pengeboran yang menjadi titik kordinat lokasi penelitian dari 70 titik, kedalaman lahan ganbutnya kedalamannya lebih dari 6,5 meter (karyono, Oka dkk tahun 2011).

Eksotisme Pulau padang dengan vegetasi hutan hujan tropisnya, ternayata tidak hanya menarik tim peneliti dari Fakultas UGM. Spesifikasi vegetasi hutanya yang merupakan spewsies hutan gambut, menjadi bahan kajian riset disertasi DR Michael Allen Bardy dari Universitas British Of Colombia.

DR Michael Allen Bardy merupakan Executive Director GOFC-GOLD (Global Observation Of Forrest and Land Cover Dynamics. GOFC-GOLD merupaqkan Panel of the Global Terestarial Observasing System (GTOS), yang disepeonsori oleh FAO, UNISCO,WMO,ICSU and UNEP.

Dari hasil kajian desertasi DR Michael Allen Bardy, meskipun Pulau Padang tidak terletak didataran tinggi, Pulau Padang memiliki keunikan dengan kedalaman gambutnya diatas 9-12 meter.

Keunikan Pulau Padang dengan kawasan kubah gambutnya yang dalam, juga terpapar dari vegetasi flora dan fauna yang mendiaminya. Seperti hutan hujan tropis lainnya, vegetasi flora yang ditemukan dikawasan hutan rawa gambut Pulau Padang diantaranya, Meranti rawa atau dikenal Meranti bakau (Pharashoreasp), Ramin (Gonystilus bancanus), Meranti batu (Shorea uligonesa), Punak (Tetramerista glabra), Meranti (Shorea sp),Bintangor (Callophyllum sp),  dan Geronggang (Cratocvylon arborences).

Beberapa jenis pepohonan tersebut merupakan kayu-kayu yang memiliki nilai ekonomis industry. Kekhasan serat kayu dirawa gambut ini, selain memiliki serat yang halus, keras juga mudah diolah menjadi berbagai bahan baku industry.

Selain kayu-kayu jenis tersebut, ada beberapa jenis vegetasi kayu khas rawa gambut lainnya yakni, Suntai, Medang, kulim, Tenggek burung dan Pisang-pisang. Keragaman jenis vegetasi kayu alam rawa gambut ini menarik banyak pihak untuk memanfaatkannya. Kondisi inilah yang kemudian menjadi penyebab masraknya illegal loging.

Selain memiliki keunikan vegetasi flora, hutan rawa gambut Pulau Padang juga memiliki keragaman spesies berbagai faunanya. Berbagai jenis burung ditemukan di kawasan hutan rawa gambut ini, diantaranya murai batu, burung madu, punai, perenjak, tekukur, wak-wak, serindid dan beberapa jenis burung elang. Selain berbagai jenis burung, juga ditemukan sejumlah hewan lainnya seperti, rusa, kancil, harimau, beruang madu, pelanduk, monyet, lutung, kukang, macanakar serta berbagai jenis melata lainnya.

Keunikan dan eksotisme hutan rawa gambut Pulau Padang tidak hanya dihuni berbagai jenis flora dan fauna alamnya yang masih perawan. Di dalam kawasan hutan rawa gambut tersebut, terbentang estuaria Tasik Putri Puyu atau Tasik Tanjung Padang.

Meskipun letak tasik tersebut tidak berbeda jauh dengan permukaan laut, sumber air tasik Putri Puyu tetap tawar dan tak pernah kering meskipun kemarau panjang dating. Keunikan tasik ini, ditengahnya terdapat sebuah pulau yang terus bergerak seiring dengan pergerakan pasang surut air laut.
Diperairan Tasik Putri Puyu ini banyak ditemukan berbagai jenis biota air tawar seperti, ikan toman, tapah dan beberapa jenis lainnya. Keberadaan Tasik Putri Puyu ini tidak hanya menjadi sumber air minum bagi hewan-hewan yang menghuni hutan rawa gambut Pulau Padang, juga menjadi penyeimbang kelembaban hutan hujan tropis rawa gambut.

Keragaman dan keunikan hutan rawa gambut Pulau Padang ini merupakan salah satu fenomena alam yang menjadi bagian dari cadngan paru-paru dunia yang unik. Meskipun letaknya jauh di ujung pulau, hutan rawa gambut ini menyimpan pesona hayati yang masih perawan.

Keragaman hayatinya, hamper mewakili berbagai spesies flora dan fauna hutan hujan tropis yang berada jauh didataran tinggi.Keajaiban, menjadi satu fenomena yang membuktikan kebesaran sang pencipta alam.

Meskipun berada dibantaran pasang surut air laut, Pulau Padang memiliki kawasan kubah gambut yang mampu menekan emisi gas CO2. Fakta inilah yang kemudian menarik perhatian pemerintah untuk menjadikan kawasan kubah gambut Pulau Padang sebagai hutan lindung Margasatwa.

Kondisi fisik dan keragaman biodivisity, menarik Perhatian pihak Kementrian Kehutanan RI menjadikan kubah gambut Pulau Pada dan Hutan Tasik Putri Puyu sebagai warisan dunia yang harus dilindungi dan dijaga kelestariannya. Berdasarkan Peta tata guna Kwawasan Hutan,  Kwasan hutan Pulau Padang merupakan kawasan hutan terluas yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Meranti, dengan total luas  110.621 hektar.

Sedangkan kawasan kubah gambut sebagai kawasan Suakamargasatwa Tasik Putri Puyu seluas 16.068 hektar. Sebagai konsekuensi pemerintah dalam melindungi kawasan kubah gambut Pulau Padang, Kementerian Kehutanan melalui Panitia tata batas Kabupaten Bengkalis telah melakukan tata batas kawasan kubah gambut dari kawasan hutan Pulau Padang pada tanggal 5 Maret 1997.

Tata batas ini kemudian disetujui  Mentri Kehutanan RI dan dintanda tangani pada tanggal 25 Mei 1999. Dilansir haluankepri.com.(rep2)
 

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com