Keluh Kesah Petugas Kebersihan di TPA Gogok Meranti

Dibaca: 1787 kali  Rabu,10 Juli 2013 | 10:51:00 WIB

Keluh Kesah Petugas Kebersihan di TPA Gogok Meranti
Ket Foto :

TEBING TINGGI BARAT - Nurkholis (35), Robianto (38), Subiakto (39) dan Iskandar alias Nono (35) empat orang petugas yang setiap harinya meratakan dan membakar sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) yang terletak di Desa Gogok, Kecamatan Tebing Tinggi Barat.

Di TPA yang sudah menggunung jumlah mereka dikurangi dari tahun 2012 lalu berjumlah 7 orang yang membuat tugas semakin lebih berat dan meningkat, sementara dukungan peralatan sangat minim. Bahkan peralatan saja mereka membeli sendiri.

Pagi itu, Selasa (18/6) sekitar pukul 10.00 WIB seperti hari-hari sebelumnya empat orang tersebut secara bergotong-royong meratakan sampah yang membukit di sana-sini di permukaan TPA Gogok.

Bermodalkan pencakar sampah dan karung goni mereka mengais sampah dan menaikkannya dipermukaan karung goni.

Dengan tali yang diikat di sisi karung goni di sisi kiri dan kanannya, berdua dari mereka masing-masing berduet menarik sampah tersebut ke sisi TPA yang masih rendah. Sehingga bukit-bukit sampah yang diserakkan oleh mobil pengangkut sampah bisa rata dan tidak menumpuk.

Setiap harinya mereka berempat mulai beraktivitas meratakan sampah dan membakarnya mulai pukul 07.00 WIB dan akan berakhir pukul 12.00 WIB. Aktivitas itu menjadi rutinitas setiap harinya.

Jika pada tahun 2012 lalu jumlah para pekerja yang bertugas meratakan dan membakar sampah di TPA Gogok sebanyak 7 orang, namun kini dikurangi oleh pihak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Pasar, Kebersihan dan Pertamanan (DPKP) menjadi empat orang.

‘’Katanya ada yang melaporkan ke dinas dengan jumlah bertujuh terlalu banyak dan kami tidak bekerja,’’ aku Nurkholis, koordinator petugas sampah di TPA Gogok tersebut berbincang bersama Riau Pos pada saat itu. Dia juga merasa kesal bahwa laporan itu ditelan bulat-bulat tanpa dikroscek ke lapangan terlebih dahulu.

Padahal menurutnya saat ini beban kerja mereka semakin besar. Sebab semakin banyak sampah yang diantar ke TPA Gogok.

Sedangkan peralatan mereka hanya seadanya seperti pencakar sampah dan karung goni saja. ‘’Peralatan yang kami pakai pun kami beli sendiri. Sementara baju dinas yang kami pakai ini sudah setahun setengah belum diganti-ganti juga,’’ tambah Subiakto.

Terkadang terpikir oleh mereka bagaimana beban berat dalam bertugas meratakan sampah di TPA Gogok tersebut. Namun kebutuhan akan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan rezeki menghidupi keluarga menjadikan alasan kuat untuk tetap bertahan.

Belum lagi dengan pekerjaan yang dijalani sangat rentan terhadap timbulnya berbagai penyakit. Makanya jangankan untuk dibelikan masker jaminan kesehatan saja tidak diberikan.

Kisah lainnya yang menjadi tantangan menjalani tugas perata sampah di TPA Gogok yakni ancaman hewan melata mulai dari ular dan binatang lainnya yang akan muncul terutama di musim hujan.

‘’Kalau ular masuk rumah penjagaan yang kami tempati bukan cerita asing lagi,’’ ucap Rubianto lagi.

Walaupun dengan peralatan seadanya mereka tetap bersemangat untuk melakukan pekerjaan. Memang diakui di bagian belakang lahan TPA masih terdapat kekosongan.

Namun karena sampah-sampah sudah menumpuk dan tebal sehingga menyulitkan dengan peralatan yang hanya pencakar sampah.

‘’Bagaimana mau menggali sampah yang sudah menebal dan melekat terlalu lama hanya dengan pencakar sampah. Tak mungkin kami sanggup. Kecuali dilakukan dengan buldoser,’’ terang Nono dilansir riaupos.co.id.(rep2)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com