Kopi Unggulan Meranti Tembus Pasar Dunia

Dibaca: 2523 kali  Sabtu,24 Agustus 2013 | 10:45:00 WIB

Kopi Unggulan Meranti Tembus Pasar Dunia
Ket Foto :

SELATPANJANG -Kekayaan sumber daya alam (SDA) di  Kabupaten Kepulauan Meranti tidak hanya memiliki potensi perkebunan kelapa, karet dan sagu yang menjadi  cluster sagu nasional. Namun Kabupaten Kepulauan Meranti juga memiliki potensi perkebunan kopi yang sangat potensial untuk dijadikan sebagai komoditas ungulan daerah.

Meskipun pengembangan perkebunan kopi di Kabupaten kepulauan Meranti, tidak seluas perkebunan sagu, namun dari sisi kuantitas dan kualitas, produksi kopi Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki cita rasa yang khas, dan disukai masyarakat.

Seperti kopi sempian, merupakan komoditas kopi varietas lokal yang menjadi andalan Meranti. Kopi Sempian, tidak hanya menjadi bahan konsumsi masyarakat Meranti, namun  merupakan produk bahan baku  industry coffee Nascafee dari Malaysia.

Setiap bulannya dengan memanfaatkan kegiatan lintas batas, puluhan ton produk kopi sempian dalam bentuk beras (setelah dipecah dan dikeringkan)  di bawa masuk ke Malaysia, melalui pelabuhan Batu Pahat Johor Baharu.

Kopi sepian sebenarnya merupakan varietas local. Asal mula perkembangan perkebunan kopi di kabupaten kepulauan Meranti, diawali dengan upaya salah seorang warga Desa Kedaburapat H. Saleh yang aslinya dari Batu Pahat Malaysia ke Pulau Rangsang, pada awal tahun 1930-an. Pada tahun 1940-an, H. Saleh yang bernama Dul Samad, rutin melakukan aktifitas semokil dari Pulau Rangsang Sempian Kedaburapat ke Batu Pahat Johor Baru.

Dari Sempian. H. Saleh membawa berbagai komoditas perkebunan kelapa dan karet untuk ditukarkan dengan beras, gula dan berbagai aneka kebutuhan rumah tangga. Karena tertarik dengan buah kopi di batu Pahat waktu itu, H. Saleh berupaya membawa tanaman bibit kopi. Karena tidak mendapatkan bibit kopi, H. Saleh berupaya membeli buah kopi yang masak untuk dibawa pulang ke Sempian dan disemai sendiri.

Dengan berbekal buah kopi 5 kilogram, H. Saleh berupaya membibitkannya untuk dijadikan cikal bakal kebun kopi di Sempian. Dari sinilah awalnya perkebunan kopi Sempian, yang kemudian meluas. “Dari 5 kilogram buah kopi yang masak tersebut, hanya bisa hidup 250 batang anak kopi. Berbekal bibit 250 batang inilah, terus kita kembangkan.  Upaya pengembangan kebun kopi di daerah ini dilakukan dengan cara memanfaatkan bibit kopi yang tumbuh sendiri disekitar pohon kopi induk, yang berasal dari pohon induk yang dibiarkan.

Karena hasilnya bagus, masyarakat terus berupaya mengembangkan tanaman kopi ini menjadi komoditas perkebunan. Dari Parit Amat, perkebunan kopi ini meluas ke Parit Gantung dan Parit Kasan yang kemudian dikenbal sebagai Sempian. Karena daerah ini pengahsil terbesar kopi di Kedaburapat dan Bangkalis waktu itu, kopi ini kemudian di kenal dengan nama Kopi Sempian” ungkap Marzukui (75 th) dilansir haluankepri.com, salah seorang anak tertua H. Saleh yang turut bersama orang tuanya menanam kopi yang kini menjadi komoditas unggulan ekspor Kabupaten Kepulauan Meranti.(rep2)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com