Gelombang Laut Masih Tinggi

Nelayan Pasok Ikan dari Pekanbaru

Dibaca: 2162 kali  Sabtu,14 September 2013 | 11:22:00 WIB

Nelayan Pasok Ikan dari Pekanbaru
Ket Foto :

SELATPANJANG - Angin kencang dan gelombang tinggi yang akhir-akhir ini terjadi di perairan Selat Malaka yang berhadapan dengan Pulau Rangsang, menyebabkan nelayan Kepulauan Meranti enggan melaut. Kondisi itu memicu melambungnya harga ikan dipasaran Kota Selatpanjang yang dipasok dari luar daerah.

“Para nelayan Kepulauan Meranti banyak yang tidak melaut, terpaksa kami memasok ikan segar dari Pekanbaru. Kondisi ini sudah berlangsung lebih sepuluh hari,” ungkap  Hendri, salah seorang pedagang ikan di pasar Ikan Selatpanjang, Jumat (13/9).

Karena harus memasok ikan segar dari Pekanbaru, harga ikan di pasar Selatpanjang, turut melambung tinggi. Seperti untuk ikan jenis campuran, biang dan selangat, harganya mencapai  Rp 35.000/kg. Sedangkan jenis udang tuahe Rp 55.000/kg, dan udang lipan (merah hitam) Rp 40.000/kg. Padahal pada hari-hari biasa ketika nelayan masih melaut, harga dua jenis komoditas laut ini berkisar antara Rp 25.000/kg sampai 35.000/kg. Apalagi untuk jenis ikan patin laut naik drastis menjadi Rp 95.000/kgnya.

“Masa untuk ikan biang saja harganya sampai Rp 35.000/kg. Apalagi untuk jenis ikan  Patin laut naik menjadi Rp 95.000/kg, padahal hari biasa hanya Rp75.000/kgnya,” ujar Rosnah (48), salah seorang warga Kota Selatpanjang.

Kondisi cuaca dan gelombang laut Selat Malaka yang tidak bersahabat berimbas kepada berkuranya pasokan ikan di Kota Selatpanjang. Bahar Muharram (45) nelayan Desa Tanah Merah Rangsang Pesisir mengaku sudah dua pekan dirinya tidak melaut. Karena kondisi cuaca yang tidak menentu, hujan lebat yang disertai dengan tiupan angin kencang menyebabkan bapak tiga anak ini, menghentikan aktifitas rutinnya mencari ikan.

“Gimana kondisi laut memang tak aman untuk kami melaut menangkap ikan. Ombak besar dan tiupan angin kencang sangat merepotkan kami. Untuk itu, kami lebih memilih untuk tidak turun ke laut,” ujar Bahar Muharam.

Tidak hanya nelayan Tanah Merah saja, namun Jamaluddin (52) nelayan dari Desa Melai Rangsang Barat juga mengaku sama. Ketinggian ombak laut ddi perairan depan Pulau Rangsang dalam dua pekan ini mengancam aktifitas para nelayan. Selain itu, tiupan angin kencang yang datang secara tiba-tiba, juga menjadikan suasana di laut tak aman. Para nelayan tidak hanya harus bertarung dengan tingginya ombak, juga hujan dan badai.

“Kalaupun dipaksa turun melaut, hasilnya tidak akan maksimal. Hasil tangkapan tidak akan banyak seperti biasanya. Ikan-ikan yang tertangkap hanya jenis ikan campuran yang harganya murah. Untuk itu, tidak sebanding dengan kerja keras kami melawan badai. Dari pada beresiko tenggelam di terjang ombak, kami memilih tidak melaut. Sampai hari ini sudah lebih 12 hari saya tak melaut,” beber Jamaluddin.(rep6)
 

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com