Permintaan Membludak, Warga Melai Beternak Siput

Dibaca: 3156 kali  Jumat,19 April 2013 | 10:24:00 WIB

Permintaan Membludak, Warga Melai Beternak Siput
Ket Foto :

RANGSANGBARAT – Warga Desa Melai dan Desa Mekar Baru Kecamatan Rangsang Barat, sengaja memilih mengembangbiakkan siput yang dikonsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pasar yang cukup tinggi, baik di Kepulauan Meranti, maupun di luar kabupaten ini.

“Saat ini saya baru bisa memenuhi permintaan sekali tiga bulan. Karena memang rata-rata tempat yang saya buka masih baru,” ujar Samad (60), salah satu warga Desa Mekar Baru yang berternak siput di hutan bakau yang tidak jauh dari rumahnya, saat ditemui baru-baru ini di desanya.

Menurut Samad, penangkaran siput sangat potensial untuk dikembangkan, mengingat permintaan pasar yang juga cukup tinggi. Selain itu, berternak siput juga tidak memerlukan modal yang besar dan juga keahlian khusus dari para peternak.

“Bukan harus membuat kolam, memberi makan ataupun dilihat setiap hari. Untuk membuat penangkaran siput hanya perlu mencari lahan yang tidak jauh dari laut dan bisa masuk air asin. Kemudian membuat parit keliling yang ditengah paritnya terdapat tanaman bakau. Parit itu hanya agar siput tidak keluar dari tempat ternak kita dan lari jauh," kata Samad.

Sebelumnya, Samad menampung siput-siput yang dicari oleh warga desanya sebagai bibit. Setelah itu, siput yang dibelinya tersebut diletakkan di dalam tanaman bakau (miniatur hutan) yang telah dikelilingi parit tadi, dan dibiarkan berkembang biak dengan sendirinya.

“Bakau-bakau itu gunanya untuk tempat bertengger siput kalau air pasang merendam. Tidak perlu ditengok tiap hari, paling sekali 3 hari. Kalau ada siput yang keluar, kita masukkan kembali kedalam hutan penangkaran,” jelasnya.

Samad yang sudah bertahun-tahun lalu membuat penangkaran siput, setiap panen rata-rata hasil setiap tiga bulan sekali itu dua kali lipat dari jumlah bibit yang diletakkan disana. "Ada dua penangkaran siput milik saya," katanya.

Setelah dipanen, ujar samad yang juga berjualan dan menampung hasil laut nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Mekar baru itu, siput tersebut akan dijual untuk memenuhi permintaan di berbagai daerah. Mulai di wilayah Kecamatan Rangsang Barat sendiri, Kota Selatpanjang sampai Kabupaten Bengkalis.

Harga jual juga bervariasi, tergantung wilayah mana yang akan didistribusikannya siput tersebut. Harga jual mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. "Kalau untuk di sekitar rangsang barat yang kita jual di tempat pelelangan ikan hanya Rp 10 ribu, tapi jika sudah sampai ke bengkalis bisa mencapai Rp 15 ribu, tergantung dari jauh dekatnya," ujarnya lagi.

Meski begitu, katanya hingga dari dulu terjadi penurunan hasil siput. Kalau dulu ia masih mampu menyuplai permintaan pasar di Bengkalis, namun kini untuk memenuhi permintaan di Selatpanjang saja ia mengaku kesulitan. Makanya ia berencana akan menambah tempat penangkaran siput tersebut nantinya. Sehingga hasil yang didapatinya lebih banyak lagi.

"Sekarang rata-rata hasil siput ini sebanyak 500 kilogram pertiga bulan. Kita belum mampu memenuhi permintaan pasar di bengkalis. Jadi hasil siput itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar di sini (mekar baru dan sekitarnya) dan selatpanjang saja," kata pria yang menjadi salah satu penyuplai ikan dan siput di bengkalis itu menerangkan.

Ia hanya berharap agar dalam memanfaatkan lahan bakau untuk penangkaran siput itu terus didukung untuk kelangsungan peningkatan ekonomi masyarakat disana. Sebab menurutnya lagi masyarakat disana, termasuk dirinya sangat tergantung dengan hasil laut. (rep01)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com