Membangun Kemandirian Ekonomi Tebingtinggi Timur

Tawarkan Terubuk dan Kampung Mangrove

Dibaca: 1809 kali  Senin,02 Desember 2013 | 03:42:00 WIB

Tawarkan Terubuk dan Kampung Mangrove
Ket Foto : Bupati Kepulauan Meranti, Drs Irwan MSi

Dari sisi geografis, Tebingtinggi Timur yang kaya akan potensi perkebunan memiliki potensi panorama alam yang sangat indah. Potensi pantai Tanjung Gadai yang landai dengan pasir putihnya, menghadap daratan sumatera dan perairan kawasan segitiga dengan Kepri, menjadiakan daerah ini sangat nyaman untuk dijadikan pusat pengembangan industri pariwisata maritime.

Kondisi ini didukung pula dengan keberadaan dua buah pulau yang penuh dengan tanaman mangrove. Pulau Jadi dan Pulau Panjang yang terletak sebagai pembatas antara kepulauan Meranti dengan Pelalawan, menambah esksotik potensi wisata Meranti. Dua buah pulau yang tak berpenghuni ini bisa dikembangkan menjadi "Kampung Mangrove".


Demikian pula dengan letak perairan Selat Panjang, yang menjadi hamparan tempat hidup ratusan nelayan-nelayan dari komunitas Adat Tertinggal di Desa Kepau Baru dan beberapa desa dipinggiran selat ini lainnya. Selat Air Hitam yang menjadi tempat pertemuan antara arus air laut dengan arus air sungai Kampar dari kawasan Kuala Kampar, menjadikan perairan ini sangat subur dan kaya akan ikan-ikan berkualitas. Pertemuan antara dua arus yang berbeda suhu ini, menjadi tempat yang paling aman bagi berbagai jenis ikan. Berbagai spesies plangton yang menjadi sumber makanan ikan, tumbuh subur dan menjadi dapur makanan yang tak pernah putus. Tidak heran, bila di perairan ini ditemukan jenis-jenis ikan bernilai ekonomi tinggi, seperti Patin laut, Kurau, Senangin, Tenggiri, beragai jenis udang. Bahkan ikan terubuk yang dulu sempat dinyatakan sebagai biota laut yang mulai punah, berkembang biak dengan subur di perarian ini. Dan yang lebih menakjubkan lagi, meskipun jauh tertinggal ratusan nelayan Komunitas Adat Tertinggal sangat komit menjaga kelestarian ikan terubuk ini. Tidak ada tuba, tidak ada jaring dan pancing. Untuk menangkap ikan terubuk ini hanya dengan menggunakan alat tangkap rawai. Dan waktu penangkapannya juga tertentu, sekitar bulan Juni-Agustus.


"Tebingtinggi Timur memiliki nilai eksotis untuk dijadikan sebagai pusat ekowisata maritime. Hutan mangrove di pulau Jadi dan Pulau Panjang, merupakan kampung mangrove yang terjaga kelestariannya. Dan yang lebih menakjubkan, komitmen KAT menjaga kelestarian ikan terubuk dan patin kuala dengan alat tangkapnya rawai. Ini merupakan satu keunikan, yang punya nilai jual untuk pariwisata. Persoalannya sekarang, berapa serius Pemkab Kepulauan Meranti untuk mengembangkan dareah ini," ungkap DR Ir H Agusnimar MSc. pakar ilmu Kelautan dan Perikakanan Fakultas Pertanian UIR Pekanbaru.(rep6)

Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com