Mafia Arang Hanya Bayar Rp300 Ribu Perbulan Pekerja Suku Akit di Meranti

Dibaca: 1830 kali  Kamis,20 Februari 2014 | 09:40:00 WIB

Mafia Arang Hanya Bayar Rp300 Ribu Perbulan Pekerja Suku Akit di Meranti
Ket Foto : Noh (kanan) sedang beristirahat di pondok jaganya tempat ia tinggal tidak jauh dari dapur arang milik atang di Desa Sesap, Kecamatan Tebingtinggi, Min

Praktik upah murah oleh mafia arang terhadap para pekerja terutama para buruh kasar terus berlangsung di Kepulauan Meranti. Salah satunya para pekerja panglong (dapur) arang, yang banyak didominasi oleh warga Suku Akit (orang asli). Akibatnya, kondisi masyarakat tidak banyak berubah, kemiskinan terus mendera, sedangkan pengusaha terus mengaut pundi-pundi dolar dari hitamnya hidup pekerja arang.
 
Siang itu, Minggu, (16/2/2014) sedang berlangsung Pagelaran Seni Budaya Suku Akit di Desa Sesap, Kecamatan Tebingtinggi. Sebuah kegiatan yang dihadiri pejabat pemerintah daerah, anggota DPRD, dan para ketua suku.
 
Namun bukan seremonial budaya itu yang menarik di sana, tapi lebih pada kondisi ekonomi masyarakat desa yang sangat memperihatinkan.
 
Sebagian besar masyarakat desa Suku Akit Desa Sesap bekerja sebagai buruh kasar di beberapa panglong (dapur) arang yang beroperasi di sekitar desa mereka. Dapur-dapur ini seolah menjadi priuk nasi bagi mereka, karena alam yang mereka handalkan selama ini tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 
Ibarat dua sisi mata uang, pemerintah pun seperti tutup mata dengan aksi penebangan hutan bakau (mangroove, red) sebagai bahan baku utama arang. Bakau yang menjadi penjaga ekosistem pun harus direlakan, ditebang kemudian dijadikan arang untuk kemudian diekspor ke Singapura. Para pengusaha panglong pun seperti mendapat angin segar, dapur-dapur arang mereka terus berasap berubah menjadi pundi-pundi dolar.
 
Namun tidak bagi para pekerja, semua terlihat kontras jika dibandingkan dengan upah yang diterima. Usahkan memenuhi upah minimum kabupaten (UMK) yang ditetapkan Pemkab Meranti sebesar Rp1,7 Juta, untuk makan pagi dan petang saja tidak cukup. Sedangkan beban pekerjaan yang harus mereka lakukan sangat berat.
 
Noh (70), misalnya. Salah seorang warga Suku Akit Desa Sesap yang bekerja di Panglong Arang tidak jauh dari desanya, milik pengusaha cina bernama Atang. Ia mengaku hanya digaji Rp 300 Ribu perbulan ditambah 25 Kg beras dan beberapa slop rokok kretek.
 
"Tokeh kasi upah Rp 300 Ribu saja setiap bulan ditambah beras dan rokok. Kalau dipikir-pikir memang tidak cukup," ujarnya.
 
Upah yang diterimanya memang sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan pekerjaan yang dibebankan.
 
Setiap hari ia tinggal sendiri di sebuah pondok jaga tidak jauh dari dua dapur arang milik Atang di Desa Sesap. Tidak terlihat kasur ataupun tikar sebagai alas tidur untuk tubuh rentanya. Untuk mandi ia menggunakan air masin Sungai Suir yang berada tepat di depan pondok jaganya. "Pakai air laut, baru dibilas dengan air hujan sikit," kata ayah dua anak ini.
 
Tugasnya menjaga api dapur arang yang harus terus menyala, hingga proses memasak kayu menjadi arang selesai. Dua dapur yang ia jaga memakan waktu tiga bulan untuk selesai dan bongkar muat sebelum diekspor.
 
"Api tidak boleh padam, jadi harus dijaga terus. Tidak peduli siang ataupun malam, kayu bakar harus terus disiapkan. Saya baru bisa pulang ke rumah setelah dapur bongkar, tiga bulan sekali," ucap Noh.
 
Namun ia menyebutkan, bahwa tempat ia bekerja selama lebih kurang 13 tahun itu akan segera menaikkan gajinya. Meski ia belum tau pasti berapa rupiah gajinya akan dinaikkan oleh tokeh. "Kata tokeh saya akan naik gaji, karena sudah masuk koperasi. Saya tidak tau untuk apa koperasi itu," katanya sambil menunjukkan sebuah plang nama bertuliskan Koperasi Silva yang terpasang di kayu dinding pondoknya.
 
Bukan hanya itu, hasil penelusuran, para pekerja panglong arang lainnya, yang juga banyak dibawah umur juga merasakan hal yang sama. Entah karena memang merasa cukup, atau karena SDM yang kurang. Setiap pekerja dengan tugas lain dan berbeda dengan Noh, hanya diupah sebesar Rp13 Ribu perhari.
 
Setiap harinya mereka dijemput oleh sebuah kapal di pelabuhan Panglong Arang Atang di Desa Sesap, sekitar pukul 7.30 wib untuk kemudian dibawa ke seberang tempat dapur-dapur lainnya. Pekerjaan mereka, mulai dari membongkar dapur, memotong arang, menimbang dan berbagai pekerjaan kasar lainnya. Setelah seharian bekerja, mereka akan diantar pulang oleh kapal tadi sekira pukul 17.00 wib.
 
"Gaji hanya Rp13 Ribu perhari, itu belum potong makan siang. Kalau makan sma tokeh, ya gajinya tinggal dikurangi," kata salah seorang warga suku akit buruh arang, yang enggan disebutkan namanya, seperti yang dilansir dari GoRiau.com.
 
Kabid Tenaga Kerja Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskertrans) Kepulauan Meranti, Syarifudin Y Kai, yang pernah dikonfirmasi terkait permasahan upah murah ini, mengaku pihaknya telah sangat maksimal melakukan sosialisasi terkait UMK maupun turun langsung melihat kondisi para pekerja arang di wilayahnya.
 
"Kalau sosialiasi sangat gencar kita lkukan, tapi memang untuk pengawasan apalagi pemberian sanksi kita masih kekurangan tenaga. Saat ini kita baru memiliki satu tenaga pengawas yang telah bersetifikat," katanya sambil berjanji akan mencarikan solusi dan membantu para pekerja yang masih belum mendapatkan hak sepenuhnya.
 
Amat disayangkan memang jika bakau-bakau yang dikorbankan pemerintah untuk menjaga priuk nasi masyarakatnya, malah dimanfaatkan oleh mafia arang yang terus memperbudak masyarakat suku akit sebagai pekerja. (Rep01)
Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com