Toke Sagu Diminta Turun Tangan Padamkan Api di Tebing Tinggi Timur

Dibaca: 1667 kali  Selasa,25 Februari 2014 | 08:26:00 WIB

Toke Sagu Diminta Turun Tangan Padamkan Api di Tebing Tinggi Timur
Ket Foto : Camat Tebing Tinggi Timur, Helfandi SE MSi

Meski berbagai upaya sudah dilakukan, namun kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Tebingtinggi Timur belum juga bisa teratasi dengan baik. Api yang semula padam, kini hidup kembali setelah melahap gambut, kemudian meluluhlantakkan ratusan hektar lahan perkebunan sagu yang ada di sejumlah desa.
 
Camat Tebingtinggi Timur Helfandi SE MSi kepada wartawan melalui telepon selulernya, Senin (24/2/2014), mengatakan bahwa sampai saat ini kebakaran yang terjadi di Kecamatan Tebingtinggi Timur diperkirakan sudah mencapai 2400 hektar lebih. Kebakaran tidak hanya terjadi pada lahan perkebunan sagu milik PT Nasional Sago Prima (NSP), tetapi sudah menjalar ke lahan perkebunan milik masyarakat tempatan dan pengusaha Tionghoa yang dikelola warga.
 
"Titik kebakaran yang lama saja belum dapat dipadamkan, karena api masih membakar lahan gambut yang mengakibatkan terjadinya kabut asap. Bahkan dalam dua hari terakhir (Sabtu-Minggu, 22-23 Februari 2014), api kebakaran  menjalar lagi, tepatnya di Dusun II Parit Kotok dan Dusun I Sungai Pulau Desa Kepaubaru yang hanya berjarak sekitar 5-10 meter dari pemukiman masyarakat," ucap Helfandi.
 
Kondisi itu benar-benar membuatnya khawatir. Apalagi setelah tahu kalau api yang dominan melahap lahan perkebunan sagu milik pengusaha Tionghoa tersebut sudah mendekati pemukimanan warga. Karenanya, ia menghimbau kepada para pengugsaha mata sipit itu agar turun langsung ke lokasi untuk membantu warga memadamkan api yang saat ini terjadi di Desa Kepaubaru.
 
"Saya juga sudah perintahkan kepada masyarakat melalui Kades dan Sekdes, jika api tesebut sudah mendekati pemukiman penduduk, utamakan menyelamatkan manusia dan rumahnya dahulu. Soal kebun sagu yang terbakar biarkan saja dahulu, yang paling penting lokalisir rumah penduduk dan amankan penduduk kita dahulu," sebut Helfandi, seperti yang dilansir dari GoRiau.
 
Helfandi mengaku kalau masyarakat Kepaubaru dan sekitarnya sudah sangat kewalahan memadamkan api. Sebab, sudah hampir sebulan mereka bertahan di hutan atau lahan untuk mencegah api agar tidak merambat ke pemukiman penduduk dan lahan perkebunan sagu yang ada di sekitarnya. Kondisi itu juga membuat mereka terpaksa tidak bekerja, karena harus terus berjuang memadamkan api.
 
"Kalau sudah seperti ini, kasihan juga dengan keadaan ekonomi mereka. Sebenarnya perkebunan sagu milik warga Suku Akit di Kepaubaru itu tidak banyak, paling-paling hanya 1 s.d 5 ha saja. Lahan sagu yang banyak terbakar itu adalah milik toke-toke Tionghoa dari Selatpanjang yang jumlahnya sampai 100 ha bahkan lebih. Data tersebut juga saya dapatkan dari laporan masyarakat dan perangkat Desa Kepaubaru. Makanya, kita berharap sekali agar para toke Tionghoa juga dapat membantu masyarakat memadamkan api," ucap Camat Tebingtinggi Timur yang akrap disapa Iin ini. (Rep01)
Akses Merantionline.com Via Mobile m.merantionline.com